Minggu, 04 Desember 2022

RINDU

 Beberapa senjapun berlalu

Dalam dekapan malam

Bertalu kalbu merangkul angan

Terselip rindu di sepotong jiwa



Rindu ini membuncah ke langit

Mengalir deras dalam nadi

Kulepaskan getaran jiwa

Karena itu adalah cinta


Bahtera jiwa mengembara jauh

Memetik kepingan masa silam

Membuai temaram senja

Di pangkuan cinta


Ke ujung cakrawala

Langkah berderap

Susuri jejak yang sama

Arah yang engkau tuju

Aku...

Dia...

Kalian...

.

.

.

Hangat cinta anakku Farzana Omeera

MELATIKU



Anggun berdiri

Diantara bunga yang lain

Membelai jiwa di halimun pagi


Melatiku...

Berbisik merdu di kemilau embun

Menari lembut di angin semilir

Mengalirkan aroma sirami jiwa



Melatiku...

Sejenak saja tembangmu mengalun

Belum bosan menonton tarianmu

Masih kuhirup wangimu


Melatiku...

Sebentar saja engkau berkisah

Kan kugenggam erat cerita indahmu

Hingga senja menjelang


Melatiku...

Singkat saja lakon ini kau perankan

Kan kupeluk di hangatnya cinta

hingga ujung langkah


Melatiku...

Berlayarlah di keabadian

Tak beriak jalanmu

Tiada beban di bahumu


Melatiku...

Jika nanti kau tak melihat kami di taman

Carilah kami, pintakan pada-Nya

Raihlah tangan kami ke tempat indahmu


Melatiku...

Tunggu kami digerbang jannah-Nya

.

.

.

Hangat cinta anakku Farzana Omeera

Jumat, 14 Mei 2021

SEPI


Teng...
Detik terakhir menunggu
Telah berakhir
Terbaring dalam hening
Bahkan riakpun tak terdengar
Dalam pelukan samudra
Senja ketiga berlalu
Ribuan harapan
Mengetuk pintu langit



DI PALESTINA & DI SINI

 

Di sana....
Derau kalian ada mesin jet tempur
Hujan kalian bom napalm
Gerimis kalian timah panas M-16
Sungguh, bukan situasi yang nyaman
Di sini...
Derau kami semilir angin
Hujan kami air yg deras
Gerimis kami halimun pagi
Sungguh, begitu indah dan menyenangkan
Tapi...
Kami cemburu dengan kalian
karena...
Halaman rumah kalian adalah medan jihad
deru nafas kalian jalan menuju syahid



MENUNGGU REDA

 

Bersama mereka redakan riuhnya jiwa
dari silang sengkarut bumi pertiwi
masih menunggu...



JHON


Kembar 4...
sudah pasti jawabannya adalah tidak, sepupu pun bukan, hubungan family juga tak ada. Mirip (kalau ada yg jawab ia, pasti cari gara-gara), ya... tidaklah, kan bukan family jadi DNA sebagai barcode identity mereka pasti jauh berbeda.
Rasa saudara, memang ia. Bukan casing yang menyatukan, soulmate mungkin yang paling cocok, ada chemistri yang menyatukan jiwa-jiwa itu, bak sinyal 4.5 G yang kencang.
Lumpur...
ada apa dengan lumpur?
apakah mereka tercipta dari lumpur sehingga mereka tampak legam, (memang mereka tercipta dari tanah yang bercampur air) tapi bukan itu hingga mereka tampak legam.
Pecinta lumpur, itulah separuh jiwa mereka. Memang cinta mereka telah bercampur lumpur.
Kenapa begitu bro, karena rindu mereka hanyalah dengan lumpur, katalisator mereka adalah lumpur.
Cobalah scan mereka, maka kau akan temui barcode nya bercampur lumpur.
Merekalah para petualang, yang telah mewakafkan sepotong jiwa dan cinta mereka dengan lumpur.
Brooooooommmm... gas full bro...



KALA ITU

 



Bertarung deru jiwa yang mendidih
Memburu asa dalam jejak
Kini...
Bertarung rindu membekap nadi
Menyusuri aroma nafasmu
Kelak...
Ku tuang gundah yang telah menumpuk
dalam hangat pangkuanmu



SANG KAKEK DARI SHUFA

 

Ringkih...
Mereka menilaimu demikian, itu tidak salah karena yang mereka lihat adalah yang nampak di mata mereka.
Bukan Ancaman...
Bagi mereka Engkau bukanlah apa-apa, jangankan memikul senapan, kedua kakimupun telah goyah menopang tubuh rentamu.
Bukan siapa-siapa...
Memang, dimata mereka Engkau tak berarti, selantang apapun engkau berkoar di hadapan mereka, mereka mendengarnya bagai siuran angin gurun.
Tapi...
Mereka tak mampu melihat jiwa membara dalam tubuh ringkihmu, aliran darahmu memompa lantang, mereka telah mengecil nan kerdil dimatamu
Bukan senapan apalagi baju zirah dari kevlar yang membuatmu tegar dihadapan mereka, tapi keyakinan bahwa inilah puncak bangunan Islam itu yang membawamu mendengus murka dihadapan moncong senapan mereka
Dulu...
Orang-orang yang mengenalmu memang tak seberapa, engkau hanyalah kakek tua dari Shufa
Shufa...
Dimanakah itu?
Selembar bendera lusuh tergeletak di tanah.
PALESTINA
Duniapun bergemuruh untukmu
Mereka berbisik ke bumi dalam sujud yang panjang
Penuh harap...
Pintu langit merespon
Tangan-tangan mereka memelas, terasa hangat pipi mereka oleh air mata, bibir mereka bergetar, yang terdengar hanyalah nama-nama indah-Mu
Wahai para Mujahid, perdagangan ini telah dimulai






BUKAN DI ATAS AWAN

 

Di sini...
Bersemayam bersama halimun
Dalam dekapan senja
Sekedar mencari hangatnya jiwa
Bukan yang tertinggi
Yang terindahpun masih banyak
Candumu lah mengerogoti
Dan...
Membunuh rasa yang lain
Selalu...
Dibilik hati tersimpan
Rindu dinginmu
Rindu desah anginmu
Dan...
Rindu lelah yang terbayarkan
Kelak ku kembali
Mencumbumu




SUATU MASA

 Kala itu...

Endapan energi masih tersisa
Dipompa oleh nafas-nafas heroik
Terik tak kuasa membendung
Deru gempita jiwa yang ranum
Dalam bungkus kado usang
Kelak...
Mereka mendengar semua itu
Bak dongeng negeri antah berantah
Dekaplah sekuat hati
Sebagai bukti
Di panggung kita pernah
Memerankan lakon itu
--------------------------------
Zeyn...
Ketika masamu tiba
Peluklah mereka dengan erat
Walau sebatas hangatnya jiwa



Pasitammuan, 18 08 2020

LELAH

Sejenak saja...

Bertumpu di sandaran ini

Sedari tadi....

Perih di barisan goresan

Benturan hampir tak bertepi

Bukan raga ini

Bukan...



WINE

Filosofi yang panjang lebar dan hampir saja tak berujung.

Segala teori, falsafah dan isme yang engkau taklid dengannya.
Buyar....
Bukan penganut semua itu
Aroma telah menimpa semua diskusi itu
Rasa membunuh ideologi
Yang kukatakan sesat itu
Sungguh...
Nikmati sajalah...



Senja ini


Syukurlah
Temaram senja ini
Hanyalah...
Menitikkan rinai-rinai gerimis
Bukannya
Air mata
Apalagi Darah 



Selasa, 03 November 2020

TANPA GEJALA

Bukan pujangga

Pun... 

Tak senikmat roman picisan

Apalagi ...

Luluh lantak drakor nan hina itu



Hanya... 

Ingin terbang

Merentangkan belahan lengan nan ringkih


Kucium aroma langit biru

Dalam desah menggebu 

Di pelukan lumpur


Begitu hangat... 


Abadilah jiwa para petualang


#penikmatjalurberlumpur

#petualangandalan



Jumat, 03 Juli 2020

LONGGI (Tentang Seorang Sahabat)

Shalat subuh baru saja ditunaikan, menyeruak kabar tentangmu
"Innaa lillahi wa innaa ilaihi rajiuun" bergumam lirih lisan ini
Teng...
Waktumu telah berdentang
Kuotamu telah habis
Tertegun, terasa bergetar tubuh ini, terasa hangat air itu mengalir di wajah
Kawan...
Waktu untuk menanam pohon-pohon amalmu telah berlalu
Kini...
Menuai hasil panenlah yang akan kau hadapi dan menunggu setahun, 10 tahun, 100 tahun bahkan mungkin jutaan tahun lagi, ya... Menunggu hari yang dahsyat itu
Pada hari itu...
Kita semua telah berada disana, dihadapan-Nya
Hari itu...
Tiada lagi kesombongan, keangkuhan, kekayaan, pangkat dan segalanya
Yang ada hanyalah...
Takut, cemas dan memohon ampunan dari-Nya
Tempat itu adalah Padang Mahsyar.
...............................................................
Cerita tentangmu memenuhi wall-wall kami beberapa hari ini, cerita tentang hari-hari terakhirmu bersama kami
Kawan...
Maafkan kami
Keluh-kesah tentang sakit yang kau alami, berlalu begitu saja
Ternyata...
Derita yang kau alami begitu berat, sakit yang menderamu begitu hebat tapi melaluinya seorang diri
----------------------------------------------------------------
Longgi...
Cerita dengan mereka begitu mengharu biru. Masa yang penuh dengan energi, penuh dengan kebodohan namun semua terasa indah.
Kala itu...
Kita semua berjalan dalam lorong yang begitu gelap, sangat gelap...
Walaupun sekarang kita masih dalam lorong itu, setidaknya ujung lorong telah terlihat, cahaya itu berangsur menerangi
Kawan...
Tiada lagi jabat tanganmu yang erat itu, badanmu tak lagi berdiri kokoh, suaramu tak lagi menderu di udara
Kini...
Kelopak matamu terpejam rapat, badanmu kaku, bahkan tempatmu tak lagi di sini tapi nun jauh di bawah sana
Sekali lagi
Maafkan kami...
Kawan...
Barulah kali ku ikutkan namamu dalam sujud-sujudku
Allahummagfirlahu warhamhu wagfuanhu wa akrim nuzulahu wa wassiq mudhalahu...

Bala Enduk, 5 Desember 2019
23:58

Kamis, 02 Juli 2020

SANG PINTU

Suatu masa, tempat ini begitu hidup dan mengalir seperti selokan di depannya ketika musim hujan tiba.

Tempat untuk tidur saling berdempetan saat malam tiba Tempat mengerjakan tugas yang tidak pernah mampu diselesaikan sendiri di rumah sebelum masuk kampus. Tempat untuk sekedar berbagi cerita yang penuh tawa walau sebenarnya lagi pusing karena kiriman belum tiba. Sang Pintu... Aku masih mengenalimu Masih merasakan aroma-aroma tubuh para penghunimu Dan... Manusia yang pernah merasakan nikmat dengan mu

Kampus Lama, 29 Juni 2020 ketika terik begitu menyengat

YANG MASIH TERSISA



Tempat yang sebenarnya begitu ikonik bagi kota ini, apalagi dinamika ekonomi yang begitu mewabah, tempat ini adalah salah lokasi untuk memutar balik memori kita dan menanamnya kepada generasi-generasi berikutnya bahwa segala yang begitu hebat dan menyilaukan di sana berawal dari sini.



Tempat yang mereka dapati nantinya hanyalah terpampang di dinding-dinding museum sejarah kota ini sebagai sebuah foto jadul, itupun kalau ada.

Kita tidak sedang bermanja-manja dengan nostalgia kita, tapi sangat takut untuk menghadapi sebuah kenyataan bahwa sebuah partisi dalam memori kita akan terdelete.



Saya memvonis bahwa terdakwa penyebabnya adalah wabah ekonomi yang telah menjadi pandemi yang telah meluluh-lantakkan sebuah kotak sejarah kota ini, bukan hanya menjadi keping-keping yang berserakan tapi bahkan tak tersisa saat beterbangan jadi debu jalanan.

Begitu hebatnya sesuatu yang baru dan modern tetaplah tak akan mampu menyamai jejak sejarah yang telah memulai denyut nadi nafas kota ini.

Tapi itu tak akan lama lagi...

Nikmatilah selagi ada

Kota Lama, 29 Juni 2020

Sabtu, 08 Juni 2019

Jafar 1993



Senja yang temaram baru saja beranjak, kini malamlah yang sedang menyelimuti. Pun, beberapa saat yang lalu riuh derap kaki melangkah beradu dengan deru mesin motor meninggalkan halaman masjid. Yaaa… malam ini adalah malam 21 Ramadhan, orang-orang semakin semangat untuk berburu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Sebuah kabar telah tiba!
“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun” bergumam lirih lisan ini.
Sambil tertegun, terasa tubuh ini bergetar, darahpun membuncah di kepala, terasa hangat air itu mengalir di wajah ini.
Sahabat, kini kakimu tak lagi berpijak di bumi ini, suaramu tak lagi menggelombang di udara. Jatah untukmu telah habis, waktu untuk menyemai dan menanam pohon-pohon amalan kini telah terlewati, yang ada tinggallah menunggu hasil panen, yaa… menunggu, mungkin 10 tahun, 100 tahun, 1000 tahun bahkan mungkin jutaan tahun kemudian, di duniamu yang sekarang.
Sekelebat waktu memoriku flash back ketika engkau masih bernafas, kelopak matamu masih terbuka, tubuh berdiri kokoh dan hangat jabatan tangan ketika kita berpisah beberapa pekan yang lalu. Memang…. Beberapa pekan yang lalu tiba-tiba engkau muncul depan rumahku.
“Untuk urusan keluarga bro”, begitu katamu ketika kutanya
Sekitar 5 hari kita bersama, kesempatan tidak kusia-siakan menanyakan kabar beberapa kawan disana.
“Sekarang si Bonar dimana?” tanyaku
Si Ipul, Antoni, Untung, Si Pammang, Kak Ammang, Halim dan adek-adeknya, Asda, Rahmat, Albert, Satno, Edi, Kak Unrung & Kak Tiar, Anak-anak di pasar, Kak Doang, kak Illang, Anak-anak simpang Andouohu lama. Semua tak satupun yang terlewat, kita membahasnya setiap saat ketika duduk-duduk di teras bersama kemenakanmu, Yoga.
“Eehh….. bos sekarang dimana?” kembali bertanya.
Ingatkan sama si Bos, bagaikan rumah singgah bagi anak mahasiswa ketika kehabisan logistik.
“Si Sul sama si Anto yang paling tahu itu, bro.” begitu jawabmu
“Ha…ha…ha…ha….” Kitapun terbahak bersamaan
“Si Botak juga.” Engkau menambahkan, tawa kitapun terdengan makin kencang.
Panjang lebar engkau menceritakan suasana di sana sekarang, sambil sesekali kita terbahak-bahak ketika mengenang masa-masa yang telah berlalu, masa-masa yang penuh dengan energi, masa-masa yang penuh dengan kebodohan tapi semua terasa indah, seolah kita de javu dengan semua itu.
Semua kenangan ini tidak akan hilang, sobat.
Engkau telah menitipkan memori itu kepada orang-orang yang tepat, aku mungkin hanya satu dari ratusan orang yang akan mendekap erat kenangan itu.
Sahabat …..
Tak cukuplah lembaran digital ini memuat semua kenangan itu, kawan
Aku hanya ingin bercerita sedikit tentang tim sepak bola kita yang dikomandoi oleh bredermu yang ganteng itu, Campa si Batigol. Tempat latihan kita kecil tapi keren bro, dipinggir lapangan tumbuh semak belukar yang sekaligus sebagai garis pinggir lapangan, dibelakang gawang ada bangunan yang depan rumahnya tepat menghadap ke lapangan.
Masih ingatkan? Kawanku…
Setiap bola masuk ke halaman rumah tersebut, apalagi bunyi kaca yang terkena bola yang terdengar, yakin beberapa detik kemudian suara garang dari dalam rumah akan terdengar menggelegar. Lapangan kita itu kita beri nama Olympico seperti nama kandang Jawara Serie A kala itu AS Roma dengan bintang tenarnya Gabriel Omar Batistuta. Ohh… kawan aku hampir lupa ternyata pemain andalanmu adalah Redondo, sorry bro

Beberapa kali tim kita keluar melakukan uji coba dengan beberapa tim kampung, ingatkan kawan?, kalau tim kita hanyalah tim lorong yang nekad bermain bola berbekal Olympico sebagai Home kita.
Suatu kali kita nekad menantang tim salah satu perusahaan yang lumayan besar kala itu di sana yakni PT. Samudra Indonesia, kita mendatanginya dengan semangat Olympico, kita bermain di atas lapangan yang cukup bagus,
“Ya ialah inikan fasilitas milik perusahaan besar”. Begitu salah seoarang kawan kita menimpali.
Tim kitapun bermain, dan ternyata pemain-pemain mereka sebagain besar dari Tim Divisi 3.
“Mereka pemain PSK”. Seseorang membisiki kami, mungkin mencoba membebani kami dengan nama besar itu.
Eeehh….. Jangan salah bro, mereka bukan Penjaja Seks Komersil tapi Persatuan Sepakbola Kendari. Tim kebanggan kota kita kala itu.
Permainanpun berjalan cukup menarik, tapi yakinlah kawan hasil akhirlah yang dihitung, ternyata tim kita menang telak, tim lorong telah mengalahkan tim sebuah perusahaan besar, suatu kebanggaan yang sangat besar. Euphoria itulah yang memunculkan ide kawan yang lain.
“PS Andounohu selanjutnya”. Begitu kawan-kawan menunjukkan ekspresi kemenangan. Ingatkan kawan? PS Anduonohu itu adalah tim lokal yang sangat kuat kala itu.
Beberapa pekan berlalu, tibalah sebuah kabar menarik.
“Ada undangan pertandingan dari PT. Samudra Indonesia”. Sambil membaca surat tersebut, si Coach tersenyum dengan gayanya yang khas terlihat sinis dan pasti mengjengkelkan, gaya Anak Pasaran!.
Revenge pun terjadi.
Bak film silat murahan dengan tokoh baik dan tokoh jahatnya, yang pasti kitalah tokoh baiknya kawan.
Si tokoh jahat membabi buta ingin mengalahkan musuhnya, dengan segala cara. Pertandingan cukup menarik, sayang mereka dengan nama besar dan dengan kualitas semi professional bermain kasar. Sayapun sempat dilibas oleh striker mereka. Permainanpun berakhir.
Sebuah cerita yang berakhir ironis kawan….
Si tokoh baik ternyata kalah dari si tokoh jahat, revenge mereka berhasil kala itu kawan.
Tapi, sahabatku……
Saya baru ingat ternyata ketika pertandingan pertama itu, engkau sama si Botak tidak ada dalam line up pemain yang diturunkan oleh Coach Batigol, tapi kita menang.
Barulah pada pertandingan kedua saat revenge itu, kalian berdua ada dalam line up pemain, dan kita kalah.
“Kenapa ya?” bergumam si Coach tidak habis pikir.
Cerita bola itupun berakhir, sahabat…..

Beberapa tahun kemudian, engkau tiba-tiba muncul.
“Mau menikah bro.” agak genit mukamu saat itu.
Cerita indah tentang keluargamu yang baru, berjalan bagaikan kereta Shinkansen, sangat cepat. Bahkan mungkin terlalu cepat hingga memori kita tidak sempat menyimpan file-filenya.
Engkau kembali sendiri, sahabat….

Tapi duka itu sama sekali tidak pernah engkau tampakkan di raut wajahmu, mungkin engkau terluka dengan itu kawan, tapi engkau mampu melewati dan menyimpannya.
“Bukan untuk konsumsi publik,” begitu kira-kira jawabanmu seandainya ada yang menanyakan itu.
Sahabat….
Engkau telah melewati 2/3 dari Ramadhan ini, Ramadhan terakhir untukmu.
Semoga Ramadhanmu ini berarti, dia tidak pergi begitu saja, persis seperti yang aku dan engkau lakukan bertahun-tahun yang lalu. Dahulu kala Ramadhan hadir, kita membiarkannya sepi. Hingga dia beranjak, kita tetap sepi.

Entah ada atau tidak ada dosa kita yang diampuni.
Entah ada rasa lapar dan dahaga itu tercatat oleh malaikat-Nya
Entah qiyaam itu ada nilainya
Entah berhakkah kita melewati pintu Ar-Rayyan itu, kelak…
Entahlah kawan ….

Bukankah Allah begitu pemurahnya kepada kita, masih memberikan kita sekali lagi kesempatan. Masih membiarkan nafas kita berhembus, walaupun engkau tidak sampai finish tapi engkau masih mendapati Bulan yang mulia ini. Semoga Ramadhan terakhirmu ini meninggalkan arti dalam lembaran amalmu.

Kini sahabat….
Tiada lagi Ramadhan untukmu…
Tiada lagi Shiyam untukmu…
Tiada lagi qiyaam untukmu…
Tiada lagi tilawah untukmu…
Tiada lagi shadaqah untukmu…
Tiada lagi istigfar untukmu…
Tiada lagi do’a-do’a untukmu…
Tiada lagi I’tikaf untukmu…
Tiada lagi idul fitri untukmu…
Yang ada hanya hisab!

Sahabat…
Aku meminta maaf kepadamu, karena baru kali ini aku mengikutkan namamu dalam sujud-sujud panjangku, ada namamu ketika air mata berlinang dalam do’a-do’aku.

Allahummagfirlahu warhamhu wa afihi wagfuanhu wa akrim nuzulahu wa wassig mudkhalahu wagsilhu bilmai wassalji wal barad min khatayaa kamaa nakkaitassauba al alyadu minaddanas wa abdilhu daran khairan min daarih wa ahlan Khairan min ahli wa adkhilhul jannata wa aishu min azabil kabri min azabinnar.


                                                                                             
Baraka, 21 Ramadhan 1440 H

Untuk seorang sahabat, kemenakan...
Jafar bin Junwar bin Tjella

                                                                                      

Sabtu, 10 November 2018

DIKAU (Terjebak dalam Ruang Nostalgia)


Sedikit tergopoh aku berusaha melayanimu dengan baik, demi membuktikan bahwa aku ingin engkau selalu berada di sini. 

Beberapa saat yang lalu engkau muncul begitu saja di depan pintu rumah ini, tak ada kabar berita sebelumnya. Setelah sekian lama engkau lenyap bak tertelan Likuifaksi.

“duh….. dimana gerangan aku akan mencarimu”, batin ini mulai resah. Terkadang berpikir “apa salah dan dosa yang kulakukan padamu hingga dikau beranjak dari tempat kita ini, walaupun yang tumbuh dihalaman rumah kita hanya bunga bakung tanpa anyelir apalagi melati, tapi ini rumah kita begitu kata ahmad Albar.

Keinginan untuk selalu bersamamu membongkar masa-masa engkau masih disini, kecerian dan gelak tawa yang hadir dari tingkahmu. Terkadang memang hadir gejolak ego tapi tidak sebanding dengan rasa itu ketika engkau ada disini, apakah aku terjebak diruang nostalgianya Raisa Andriana ?

Biarlah orang berkata apapun tentang kepergianmu, segala celoteh dan bacotan yang murah meriah hilir mudik mencoba mempengaruhiku untuk coba melupakanmu. Rindu yang kurasa tak pernah sehebat rindu ini meski mungkin kau takkan pernah tahu, kata si Once Dewa

“Tidakkkkkk….” Kataku, engkau tidak boleh pergi dariku, aku harus menemukanmu dan membawamu kembali, dengan cara apapun. Meski aku mencari seperti kisah si guru pengganti wei Minzhi dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, dia kehilangan seorang siswanya yang berangkat ke kota karena kemiskinan yang hebat di desanya. Zhang Huike, sang siswa yang menghilang itu akhirnya dapat ditemukan oleh Guru Wei setelah melalui perjuangan yang begitu mengharu-biru. Kisah NOT ONE LESS inilah yang kembali memompa rasa rindu ini.

Hari berlalu, berita darimu tak kunjung kudengar, PING itu semakin menghilang, “mungkin kotak hitamnya terbenam ke dalam lumpur” begitu penjelasan dari Tim SAR, begitupun dengan pencarian ini, sinyal-sinyal keberadaanmu semakan redup, apakah harapan untuk menemukan telah pupus ?

Kini dikau tiba-tiba hadir didepanku, mulut ini kelu tak mampu mengucap sebait katapun, tapi lihatlah mataku ini, pancaran kegembiraan itu ada disana. Denyut nadi sedikit bergejolak, adrenalinpun terpompa, ku ingin segera memelukmu.

Ah…. Tapi engkau berlalu begitu saja dihadapanku.

Ah… apapun sikapmu saat ini aku tak peduli, kehadiranmu telah memenuhi ruang rindu ini
Melayanimu sebaik mungkin adalah prioritasku sekarang, sekejap dihadapan tergelar menu-menu kesukaanmu.

Duh… bahagianya

Engkau menikmatinya dengan lahap, bergetar indah kalbu ini, dikau telah kembali sayang, aku begitu terbuai oleh hadirmu itu, terasa indah dapur kita ini walaupun hanya berupa siraman semen cair bukan dari batu marmer.

Tiba-tiba engkau kembali berlalu, tak secuil suarapun keluar dari mulutmu yang indah itu, aku memanggilmu dengan panggilan kesukaanmu, engkau tetap berjalan tanpa menoleh sedikitpun seolah engkau berjalan dipadang rumput seorang diri tanpa seorangpun bersamamu.

Namamu terus terdengar keluar dari mulut ini, seolah tak seorangpun di sekitarmu, engkau terus berlalu hingga kegelapan malam kembali menelanmu.

Dikau telah mengoyak ruang-ruang bahagia yang mulai kususun ulang, apakah aku harus membencimu karena ini, tidak aku tetap mencintaimu apapun yang telah terjadi.

Aku terjebak di ruang nostalgiamu…..

MONTU…. MONTU…… MONTU…… Curuke’….curuke’….curuke’…… itulah panggilanku untukmu.

MONTU, memboko inde’ to bale Baulu mukande anna mupalai ora…

Begitulah para pembaca, kalau kita memelihara kucing jantan dan tiba musim kawin, maka dia tidak akan pernah betah tinggal di rumah kita dan selalu berkeliaran hingga berhari-hari.

Untuk kucing kesayanganku : MONTU


Kamis, 08 November 2018

AKU CEMBURU PADAMU

Matahari tergelincir beberapa derajat, tersiar kabar berita tentang dirimu. Kuotamu telah habis kawan.
Photo by Irmansyah Aman

Kaget dan berbagai ekspresi bermunculan dari orang-orang yang selama ini selalu berinteraksi dengamu dan menikmati ekspresi tawamu yang khas, betul-betul orisinil dirimu kawan, ORI Broo… .Ketika bersua denganmu orang-orang selalu menikmati tawa khasmu, bukan senyum dan tawa yang terpaksa dan dipaksa demi “MOHON DUKUNGANNYA”.
Ah…. Mungkin duniamu memang berbeda dengan dunia mereka, engkau tetaplah memijak bumi ini tetapi mereka, uhhhhh….. mungkin hari ini mereka masih membumi tapi aku takut kelak mereka menetap di atas awan dan hanya menatap kita dari atas sana, nun jauh di atas sana kawan, bahkan dengan teropongpun kita tak mampu menjangkaunya kawan. Eh….kawan, mungkin ini hanyalah ketakutanku yang terlalu berlebihan dengan dunia mereka.
Beberapa hari berita tentang dirimu (lengkap dengan picture yang tetap ori dirimu) jadi trending topic mulai dari Facebook, WA, instagram sampai cerita emak-emak di saladan bahkan sampai cerita longgi di dekker, sayang berita tentangmu masih kalah pamor dengan JT-610. Jangankan berita tentangmu yang nota benenya trending topic lokal, aksi 211 kemarin yang diikuti ribuan peserta hampir tak ada gaungnya, media mainstream begitu larut dalam duka JT-610, betulkah itu kawanku? Atau jangan-jangan mereka memang tidak tertarik dengan aksi tersebut, atau jangan-jangan ini tentang 2019 yang sempat heboh dengan ininya #.
Ahhhhh…. Sudahlah kawan tinggalkanlah dunia mereka yang hiruk-pikuk itu.
Photo by Irmansyah Aman

Kawanku ….
Kini kawan, yang tersisa buat kami adalah jejak-jejakmu yang ada ditiap tempat yang engkau singgahi, buah tanganmu yang lambat namun pasti. Masih berdiri kokoh karya-karyamu itu, ketika melihatnya lagi orang-orang akan mengenangmu dan tentu teringat dengan cara berjalanmu yang juga pasti ORI Broooo……
Photo by Wall Masry-q

Kelak kawanku….
Kami akan rindu dengan tawamu itu, ketika kita menghitung uang celengan Jumat sampai ketika pembagian zakat Fitrah, cerita tentangmu tak lekang oleh masa.
Kawan…..
Aku cemburu padamu
Ketika kuotamu telah habis, engkau telah berdiri di atas jalan tol menuju sebuah tempat yang dirindukan oleh semua. Masa baktimu bukanlah sebuah ujian, karena kertas ujianmu memang tidak pernah tertimpa setitik nodapun. Engkau bagaikan anak yang belum baligh, orang yang terbuai dalam tidurnya, bahkan seperti orang yang tidak sadar karena gila atau pingsan. Tidak ada syariat yang harus engkau emban dan harus engkau pertanggungjawabkan kemudian.
Aku cemburu padamu
Ketika engkau masih disini selama beberapa tahun lamanya dalam hitungan kami, peranmu yang engkau mainkan jauh dari dambaan para artis, engkau bukanlah tokoh utama, bayaranmu kecil bahkan jadi pelengkap malah terkadang jadi penderita, tapi ternyata di tempatmu sekarang duniamu yang dulu hanya beberapa menit dari waktu yang telah berlalu, cukup singkat memang kawan. Peranmu yang jauh dari sempurna itu kini telah pupus tertimpa kenikmatan abadi.
Aku Cemburu padamu
Kedamaian nan abadi kini telah engkau nikmati dalam waktu yang cukup panjang hingga kelak engkau tumbuh dari tulang sulbimu bagai biji yang berkecambah hingga sempurna wujudmu.
Kawanku….
Kelak engkau hadir tidak dengan penampilanmu di tempat yang dulu, tetapi engkau menjadi pemuda gagah yang didampingi oleh bidadari-bidadari yang saban hari kecantikannya tidaklah berkurang tetapi selalu bertambah, tidak seperti di duniamu yang dulu.
Tapi kawan….
Ternyata kamipun bisa berada pada posisimu yang sekarang bahkan lebih tinggi dari tempatmu itu karena kami punya piranti yang tertanam dalam diri kami. Ketika mampu memegang kuat tali kekang akal dan syahwat kami dan mengarahkan kereta kencana ini di jalur yang di ridhai-Nya. Itulah sebenar-benarnya jalan.
Kawanku…
Tidak ada jaminan kami akan senantiasa istiqamah di jalur ini, hanyalah doa, ihtiar dan tawakkal, semoga Sang Pembolak-balik hati menetapkan hati kami dijalur ini hingga Sang pemutus kelezatan menjumpai kami kelak.
Hari itu kawan….
Dunia kita telah sama, hingga kita diperhadapkan di hadapan-Nya dan menuai apa telah kita tanam di dunia kita yang dahulu, tapi engkau telah berdiri di atas jalan tol dan mulai berjalan dengan tenang, sementara kami dengan wajah penuh ketakutan  dan tertatih memikul beban yang akan kami perhadapkan pada-Nya.
Kawan….
            Aku Cemburu padamu.....